Blog

Catatan Dari yang Sedang Setia

 

Sepotong angan dititipkan, lalu aku tinggalkan saja dengan pesan.

Judul pesannya “Dari yang Merasa Setia yang Meneguk Keentahan” pada bagian pertama,

bagian keduanya aku tulis lagi dengan tajuk “Akankah jadi kenyataan” pada lembar-lembar niatan.

Aku masukan saja dalam satu amplop yang aku tulis besar-besar “Setia” di bagian depannya.

 

Sewaktu itu juga pembawa pesan berkata kepadaku,

bahwa aku harus belajar kesetiaan pada anjing.

hewan itu adalah yang perasa dalam mengenal dekapan,

berjuang tanpa mengenal dibalas lebih-lebih sayangnya.

 

Sesekali melihat mahluk lain dengan hati.

lalu sambil amati burung merpati,

yang jika salah satunya mati,

maka ada peran setia tanpa mencari pengganti.

 

Memberanikan diri dengan mendekap setia.

Berjalan perlahan, atau sekedar berbincang tentang senja.

Jurang kecewa tak sempat terlihat, jalannya lurus dengan sedikit terang.

Dan demi Tuhan, aku hanya ingin setia ini selesai dengan penantian lagu-lagu senyum.

 

“Percumalah kau ini melagu tentang setia, bahwasanya tak melihat sekitar untuk belajar.

Terus meningkatkat diri dalam niatan mulya, tak cuma terucap.

Jangan membangkang, mengganggap dunia tak pahami kau telah setia.”

Berseru kata seorang yang dulu pernah setia

 

Tak bisa ada teriakan tentang lelah setia,

sekeliling pasti menyuruhku untuk terus belajar dan duduk rapih,

melihat ke arah waktu, pasti tidak akan terasa kalau sudah sampai sewindu.

Kembalilah kau menulis, manifestasi setia itu ada sekarang atau nanti.

 

 

Terinspirasi dari buku Seno Gumira Ajidarma “Sepotong Senja Untuk Pacarku” dan film “Surat dari Praha”

 

Salam dari kami Kalagundah

Sajak: Hanif Iqbal

Photo: Frutti

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Malam Adalah Saat yang Tepat Untuk Melupakanmu

 

Keluar dari rumah untuk menikmati jalanan.

Mengingat apa yang harus dilupa dari fantasi diri.

Membuka kembali isi kepala saat malam tiba.

Suara bising jalanan jadi karib.

 

Hujan membawa hawa sendu,

berlapis-lapis pakaian aku pakai.

menghilangkan dingin,

sambil mengingat ciuman pertama.

 

Kamu adalah sosok yang selalu melibatkan malam.

Sambil memanggil lirih, agar aku luluh.

Suara itu sudah memunah, ditelan waktu.

Belum lagi, aku juga menghapus fotomu.

 

Kendaraan umum menjadi sepi saat aku pulang.

Anak pinggiran menyanyi, meminta akan kebohongan cinta.

Merayu dalam gelap, aku pun hanya mendengarkan radio rusak.

Mengingat malam ini sangat membantu, iringan jiwa membatu memahami akan paham dirimu adalah palsu.

 

Hai puan, dulu pernah terkasih, didamba sampai keruh.

Katamu aku adalah yang salah, jadi kamu adalah yang benar.

Memar terkoyak, lanjutnya memberi luka kering.

Malam dalam khayal, merajam dalam kidungku yang berlomba bersama suara hewan malam.

 

 

 

 

 

 

Maka bagiku… saat malam hari tiba adalah saat yang tepat untuk melupakanmu……

Terimakasih Untuk Alunannya #TerimakasihBandaNeira

Tidak ada kata terlambat untuk berkarya, maka dari itu kalagundah kali ini membuat karya yang didedikasikan untuk Banda Neira. Bagi kita, ada saja segala kenangan dengan lagu mereka, mengingatkan akan beberapa momen. Mendapatkan kabar dari mereka yang ternyata sudah tidak lagi meneruskan kicauan nadanya, ternyata sangatlah membuat sedih. Semoga kegundahan yang dirasa bisa diredam dengan sebuah karya sajak yang berkolaborasi dengan potret ini. Kami sangat amat berterimakasih kepada Banda Neira yang telah tulus menghadirkan karya, tanpa harus memperhatikan pasar, tanpa takut akan ragu, dan tetap syahdu nan bergeming di hati. Kalagundah juga ingin menampilkan sesuatu yang berbeda, kali ini sebelum membaca sajaknya dan melihat potretnya, alangkah lebih terasa jika mengklik lagu yang berjudul “Derai Derai Cemara” tersebut. Selamat membaca, selamat menikmati dari kami Kalagundah untuk #TerimakasihBandaNeira

 

Ada hari dimana aku butuh diam,

berjabat  tangan dengan nada dan mendengarkan ceritanya.

Di ruang sendu, atau sedang dalam perjalanan.

Merenung dalam lirik, meredam dalam suara.

 Datang pesan, bahwa alunanmu tak dilanjutkan.

Serasa meredup hari itu, kelabu namun penuh tanya.

Esok kalian akan menjadi rindu, seperti membuka album foto lama.

Atau rasanya seperti patah hati, namun tidak ingin dilupa.

Berjalan lebih jauh, seperti aku yang sedang dalam pencarian..

Elegi hari itu menyisakan nyeri.

Kemarin kalian pamit, seraya ada yang tak rela.

Nanti kalau pulang berilah kabar, agar aku bisa melihatmu dari jendela.

Di beranda hujan menjadi kawan.

Kisah sendiri dulu jadi terkenang,

menggenang jadi air mata.

Teringat harmoni nan mewangi, ditemani pesannya.

Lambaian tangan, termenung sedalam cita.

Jika tujuannya sudah sampai,

jangan lupa pulang dalam ingatan bahagia.

Ucapan terimakasih akan selalu ada.

kalagundah2-1kalagundah2-2kalagundah2-3kalagundah2-4kalagundah2-5kalagundah2-6kalagundah2-7kalagundah2-8kalagundah2-9kalagundah2-10

#TerimakasihBandaNeira